Kutu Loncat Yang Sukses Berbisnis

Kutu Loncat Yang Sukses BerbisnisMengejar prestasi gemilang dan bisa segera lulus mungkin dambaan setiap mahasiswa. Namun tidak demikian dengan Saptuari Sugiharto, lulusan Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada Yogyakarta ini mengaku sering bolos kuliah karena sibuk kerja. Sejak tahun 1998 Saptuari pernah menjadi penjaga tas di koperasi mahasiswa, jualan ayam potong, jual batik dan celana gunung, jual jaket dan kaos, terakhir jadi penjual stiker mulai tahun 2001 hingga 2005.

Karena ingin memiliki pekerjaan dan penghasilan tetap, Saptuari melamar ke sebuah stasiun radio sebagai marketing. Pertama kali kerja di perusahaan profesional, kuliahnya terbengkalai, lebih sering bolos dan nitip absen pada teman. Setahun kemudian, ia pindah ke perusahaan lain. Tahun berikutnya ia bekerja di sebuah event organizer (EO). Kerja di EO membuat ia lelah. Kadang pukul 00.00 masih angkat-angkat besi di lapangan, padahal pukul 07.00 sudah harus praktikum ilmu ukur tanah di kampus. Saptuari pun hijrah lagi ke beberapa perusahaan lain.

Setelah jadi kutu loncat di lima perusahaan, Saptuari merasa ada yang salah. Jiwa kreativitasnya terpasung, ia ingin bebas dan membangun bisnis sendiri. Seusai lulus kuliah, ia menyimpan ijazahnya di bawah tumpukan baju dan berjanji tak akan memakainya untuk melamar pekerjaan ke perusahaan manapun.

Bekerja selama empat tahun pada masa kuliah rupanya bermanfaat buat Saptuari. Lewat pengalaman itu ia mengerti cara mengelola dan mengatur bisnis, cara berpromosi, memaksimalkan kerja tim, cara mengeksekusi proyek kerja, trik negosiasi, hingga sistem administrasi.

Tujuh bulan sejak kelulusannya, pada 28 Maret 2005 Saptu membuka Kedai Digital dengan modal Rp 20 juta. Sembilan puluh persen adalah utang bank dari menggadaikan surat rumah. Sisanya dari tabungan dan menjual motor.

Kedai Digital memproduksi barang-barang cendera mata seperti mug, t-shirt, pin, gantungan kunci, mouse pad, foto, dan poster keramik serta banner dengan hiasan hasil print digital. Setelah bisnisnya berkembang, ia membuat brand pendamping, yaitu Jogist, kaos gila dari Yogyakarta yang dijual secara online. Dalam sebulan, 300-400 kaos ludes dibeli.

Kini Kedai Digital memiliki 52 cabang di 30 kota di Indonesia. Omset nasional seluruh cabang mencapai Rp 900 juta sampai Rp 1,2 milyar per bulan. Saptuari pun tak lepas dari cobaan. Akibat gempa yang mengguncang Yogyakarta pada 2006, komputer, scanner, dan mesin-mesin produksi yang belum lunas hancur.

Saptuari bahkan pernah ditipu pegawainya sendiri. Uang penjualan dibawa lari pegawai itu hingga Rp 30 jutaan. Pernah juga kedainya ludes disatroni maling. Komputer dan LCD hilang semua. Namun ia bangkit. Yang penting itu fokus, konsisten, dan yakin bahwa semua akan diraih selaam kita jujur. Bisnis melibatkan Tuhan. Berbisnislah dengan jujur, pasti akan mujur.


Kata kunci mesin pencari:

Penghasilan saptuari sugiharto - ukm tv kaos jogist yogyakarta -
loading...
Kutu Loncat Yang Sukses Berbisnis | mamanmalmsteen | 4.5